HUBUNGAN
ILMU AHLAK DENGAN ILMU LAINNYA
Dibuat
guna Memenuhi Tugas :
Mata
Kuliah : Ahlak Tasawuf
Dosen
Pengampu : Mahsun

Disusun
oleh:
Sofiani
Novi Nuryanti (132211078)
Nur
Faizah (132211088)
Sulis
Astuti (132211079)
FAKULTAS
SYARI`AH
UNIVERSITAS
ISLAM NEGRI WALISONGO
SEMARANG
2015
I.
PENDAHULUAN
A. Latar
belakang
Sebelum melangkah lebih jauh membahas materi,
seyogyanya perlu dimengerti bahwa ahlak merupakan suatu sifat yang tertanam
dalam jiwa yang dari padanya timbul perbuatan-perbuatan dengan mudah, dengan
tidak memerlukan pertimbangan terlebih dahulu.[1]
sedangkan ilmu akhlak adalah ilmu yang menjelaskan arti baik dan buruk, dan
menerangkan apa yang harus diperbuat oleh sebagian manusia terhadap sesamanya
dan menjelaskan tujuan yang hendak dicapai oleh manusia dalam perbuatan mereka
dan menunjukkan yang lurus yang harus diperbuat.[2]
Ilmu Akhlak sering disamakan dengan ethika, namun diantara keduanya memiliki
perbedaan yaitu etika menentukan baik dan buruk perbuatan manusia dengan tolak
ukur akal pikiran, sedangkan ilmu akhlak menentukannya dengan tolak ukur ajaran
agama.[3]
Dengan demikian objek pembahasan ilmu akhlak berkaitan dengan norma atau
penilaian terhadap suatu perbuatan yang dilakukan oleh seseorang.
Kaitannya dengan akhlak seseorang, itu tidak
terlepas dari tingkah laku (sikap) dengan sesama dan penciptanya (Tuhannya). Maka
dalam hal ini ilmu akhlak tentunya mempunyai hubungan-hubungan yang terkait
dengan ilmu-ilmu lainnya, baik dari segi tujuan, konsep dan kontribusi ilmu akhlak
terhadap ilmu-ilmu tersebut dan sebaliknya bagaimana kontribusi ilmu lain
terhadap ilmu akhlak.
B. Rumusan
masalah
1. Bagaimana
Hubungan ilmu ahklak dengan ilmu tasawuf?
2. Bagaimana
hubungan ilmu akhlak dengan ilmu tauhid?
3. Bagaimana
hubungan ilmu akhlak dengan ilmu jiwa (psikologi)?
4. Bagaimana
hubungan ilmu akhlak dengan ilmu sosiologi (kemasyarakatan)?
5. Bagaimana
hubungan ilmu akhlak dengan ilmu pendidikan?
6. Bagaimana
hubungan ilmu akhlak dengan ilmu filsafat?
7. Bagaimana
hubungan ilmu akhlak dengan ilmu hukum?
C. Tujuan
Mengetahui korelasi ilmu akhlak dengan ilmu tasawuf,
ilmu tauhid, ilmu jiwa, ilmu sosiologi, ilmu pendidikan, ilmu filsafat, dan
ilmu hukum. Serta kontribusi antara ilmu akhlak dengan ilmu-ilmu tersebut dan
sebaliknya.
II.
PEMBAHASAN
1. Hubungan
ilmu akhlak dengan ilmu tasawuf
Pada ahli ilmu tasawuf pada umumnya membagi tasawuf
menjadi tiga bagian. Pertama tasawuf falsafi, kedua tasawuf akhlaki
dan ketiga tasawuf amali. Ketiga tasawuf ini tujuannya sama yaitu
mendekatkan diri kepada Allah dengan cara membersihkan diri dari perbuatan
tercela dan menghias diri dengan perbuatan yang terpuji. Ketiga macam tasawuf
ini memiliki perbedaan dalam hal pendekatan yang digunakan.[4]
Hubungan ilmu akhlak dengan ilmu tasawuf yaitu
ketika mempelajari Tasawuf ternyata pula bahwa Al-Qur’an dan Al-Hadits
mementingkan akhlak. Al-Qur’an dan Hadits menekankan kejujuran, persaudaraan,
keadilan, tolong menolong, murah hati, pemaaaf, sabar, baik sangka, menepati
janji, disiplin, mencintai ilmu, dan berfikiran lurus, nila-nilai ini yang
harus dimiliki oleh seorang muslim dan
dimasukkan kedalam dirinya sejak kecil.
Sebagaimana
diketahui bahwa dalam tasawuf masalah ibadah amat menonjol, karena
tasawuf itu pada hakikatnya melakukan serangkaian ibadah seperti shalat, puasa,
haji, dzikir, dan lain sebagainya. Yang semuanya itu dilakukan dalam rangka
mendekatkan diri kepada Allah. Ibadah yang dilakukan dalam rangka bertasawuf
itu ternyata erat hubungannya dengan Akhlak.
2. Hubungan
ilmu akhlak dengan ilmu tauhid
Ilmu tauhid adalah ilmu ushuluddin, ilmu pokok-pokok
agama, yakni menyangkut aqidah dan keimanan, ilmu tauhid dapat disebut juga
dengan Ilmu kalam, yang merupakan disiplin ilmu ke Islaman yang banyak
mengedepankan pembicaraan tentang persoalan-persoalan kalam Tuhan. Pada ilmu
kalam ditemukan pembahasan iman dan definisinya, kekufuran dan manifestasinya,
serta kemunafikan dan batasannya.[5]
sedangkan ahlak yang baik menurut pandangan Islam haruslah berpijak pada
keimanan. Iman tidak sekedar cukup disimpan dalam hati. Melainkan harus
dilahirkan dalam perbuatan yang nyata dan dalam bentuk amal shaleh, barulah
dikatakan iman itu sempurna, karena telah dapat direalisir.[6]
Jelaslah bahwa akhlaqul karimah adalah mata rantai
iman. Sebagai contoh, malu (berbuat kejahatan) adalah salah satu dari akhlakul
mahmudah. Nabi dalam salah satu hadits menegaskan bahwa “malu adalah salah satu
cabang dari keimanan”.[7]
Sebaliknya akhlak yang dipandang buruk adalah akhlak
yang menyalahi prinsip-prinsip iman. Seterusnya sekalipun manusia perbuatan
pada lahirnya baik, tetapi titik tolaknya bukan karena iman maka hal itu tidak
mendapatkan penilaian disisi Allah. Demikianlah adanya perbedaan nilai
amal-amal baiknya orang beriman denganamal baiknya orang yang tidak beriman.[8]
Hubungan antara Aqidah dan Akhlak tercermin dalam
pernyataan Rosulullah SAW yang diriwayatkan oleh Abi Hurairah r.a :
اَكْمَلُ اْالمٌؤْمِنِيْنَ
اِيْمَانًااَحْسَنُهُمْ خُلُقًا
“orang
mu’min yang sempurna imannya adalah yang terbaik budi pekertinya”[9]
3. Hubungan
ilmu akhlak dengan ilmu jiwa (psikologi)
Berbicara dalam hal relevansi dan hubungan ilmu akhlak
dengan ilmu psikologi sebenarnya merupakan bahasan yang sangat strategis.
Karena antara akhlak dengan ilmu psikologi memiliki hubungan yang sangat kuat
dimana, objek sasaran penyidikan psikologi adalah terletak pada domain
perasaan, khayal, paham, kamauan, ingatan, cinta dan kenikmatan.[10]
Sedangkan akhlak sangat menghajatkan apa yang dibicarakan oleh ilmu jiwa,
bahkan ilmu jiwa adalah pendahuluan tertentu bagi akhlak.[11]
Dengan lain perkataan, ilmu jiwa sasarannya meneliti
paranan yang dimainkan dalam perilaku manusia, karenanya dia meneliti suara
hati (dhamir), kamauan (iradah), daya ingatan, hafalan dan pengertian, sangkaan
yang ringan (waham) dan kecenderungan-kecenderungan (wathif) manusia. Itu semua
menjadi lapangan kerja jiwa, yang menggerakan manusia untuk berbuat dan
berkata. Oleh karena itu ilmu jiwa merupakan muqaddimah yang pokok sebelum
mengdakan kajian ilmu ahlak.[12]
Akhlak akan mempersoalkan apakah jiwa mereka
tersebut termasuk jiwa yang baik atau buruk. Dengan demikian, menjadi jelas
bahwa ahlak mempunyai hubungan dengan ilmu jiwa. Dimana ilmu ahlak melihat dari
segi apa yang sepatutnya dikerjakan manusia, sedangkan ilmu jiwa meneropong dri
segia apakah yang menyebabkan terjadi perbuatan itu.[13]
Pada masa akhir-akhir ini, terdapat dalam ilmu jiwa
suatu cabang yang disebut “ilmu jiwa masyarakat” (social psychology). Ilmu ini
menyelidiki akal manusia dari jurusan masyarakat. Yakni menyelidiki soal bahasa
dan bagaimana bekasnya terhadap akal, adat kebiasaan suatu bangsa yang mudur
dan bagaimana bekasnya terhadap akal, adat kebiasaan suatu bangsa yang mundur
dan bagaimana susunan masyarakat. Dan bagi cabang ini memberi bekas yang
langsung pada akhlak, melebihi dari ilmu jiwa perseorangan.[14]
4. Hubungan
ilmu ahlak dengan ilmu sosiologi (kemasyarakatan)
Secara etimologis sosiologi berasal dari kata socius
yang berarti ilmu pengetahuan. Jadi sosiologi adalah ilmu pengetahuan tentang
berkawan atau di dalam arti luas adalah “ilmu pengetahuan yang berobjek pada
masalah hidup bermasyarakat”.[15]
Mempelajari masyarakat manusia yang pertama, dan bagaimana meningkat keatas,
juga menyelidiki tentang bahasa, agama, dan keluarga, dan bagaimana membentuk
undang-undang dan pemerintahan dan sebagainya. Mempelajari semua ini menolong
untuk memberi pengertian akan perbuatan manusia dan cara menentukan hukum baik
dan buruk.[16]
Hidup memasyarakat dapat dipahami dalam pengertian
yang luas, bisa dipahami dalam dimensi sempit. Masyarakat dalam arti luas ialah
kebulatan dari semua perhubungan didalam hidup masyarakat. Sedangkan dalam arti
sempit ialah suatu kelompok manusia yang menjadi tempat hidup bermasyarakat,
tidak semua aspeknya tetapi dalam berbagai aspek yang bentuknya tidak tertentu.
Masyarakat dalam arti sempit ini tidak mempunyai arti tertentu, misalnya
masyarakat mahasiswa, masyarakat pedagang, masyarakat tani, dan lain-lain.[17]
Mempersoalkan hubungan antara ahlak dengan ilmu
sosiologi agaknya sangat signifikan karena ilmu ahlak membahas tentang berbagai
perilaku manusia yang ditimbulkan oleh kehendak, yang tidak dapat terlepas dari
kajian kehidupan kemasyarakatan yang menjadi kajian ilmu sosiologi.[18]
Demikianlah karena manusia tidak dapat hidup kecuali bermasyarakat dan ia tetap
menjadi anggota masyarakat. Bukan menjadi kekuasaan kita untuk mengetahui
keutamaan seseorang dengan tidak mengetahui masyarakatnya, masyarakat mana yang
dapat membantu keutamaan atau merintanginya.[19]
5. Hubungan
ilmu ahlak dengan ilmu pendidikan
Antara ahlak dengan ilmu pendidikan mempunyai
hubungan yang sangat mendasar dalam hal teoritik dan pada tatanan praktisnya.
sebab, dunia pendidikan sangat besar sekali pengaruhnya terhadap perubahan
perilaku, ahlak seseorang. Berbagai ilmu diperkenalkan, agar siswa memahaminya
dan dapat melakukan suatu perubahan pada dirinya. Apabila siswa diberi pelajaran “Ahlak”,
pendidikan mengajarkan bagaimana seharusnya manusia itu bertingkah laku,
bersikap terhadap sesamanya dan penciptanya (Tuhan).
Dengan demikian, posisi ilmu pendidikan strategis
sekali jika dijadikan pusat perubahan perilaku yang kurang baik untuk diarahkan
menuju perilaku yang baik. oleh karena itu, dibutuhkan beberapa unsur dalam
pendidikan untuk bisa dijadikan agen perubahan sikap dan perilaku manusia. Dari
tenaga pendidik (pengajar) misalnya, perlu memiliki kemampuan profesionalitas
dalam bidangnya. Unsur lain yang perlu diperhatikan adalah materi pengajaran.
Apabila materi pengajaran yang disampaikan oleh pendidik menyimpang dan
mengarah keperubahan perilaku yang menyimpang, inilah suatu keburukan dalam
pendidikan dan begitu pula sebaliknya.[20]
Lingkungan sekolah dalam dunia pendidikan merupakan
tempat bertemunya semua watak. Perilaku dari masing-masing anak yang berlainan.
Kondisi anak yang sedemikian rupa dalam interaksi antara anak satu dengan yang
lainnya akan saling mempengaruhi juga pada kepribadian anak.[21]
Dengan demikian lingkungan pendidikan mempengaruhi jiwa anak didik. Dan akan
diarahkan kemana anak didik dan perkembangan kepribadian.[22]
6. Hubungan
ilmu ahlak dengan ilmu filsafat
Filsafat adalah ilmu pengetahuan yang berusaha
menyelidiki segala sesuatu yang ada dan yang mungkin ada dengan menggunakan
pikiran. Filsafat memiliki bidang-bidng kajiannya mencakup berbagai diiplin
ilmu antara lain :
a. Metafisika
: penyelidikan dibalik alam
yang nyata
b. Kosmologi
: penyelidikan tentang alam
(filsafat alam)
c. Logika
: pembahasan tentang
cara berfikir cepat dan tepat
d. Etika
: pembahsan tentang
tingah laku manusia
e. Theodica
: pembahasan tentang
ke-Tuhanan
f. Antropologia
: pembahasan tentang manusia
Dengan demikian jelaslah bahwa etika termasuk salah
satu komponen dalam filsafat. Banyak ilmu-ilmu yang pada mulanya merupakan
bagian filsafat karena ilmu tersebut kian meluas dan berkembang dan akhirnya
membentuk disiplin ilmu itu sendiri dan terlepas dari filsafat. Demikian juga
etika, dalam proses perkembangannya sekalipun masih diakui sebagai bagian dalam
pembahasan filsafat, kini telah merupakan ilmu yang mempunyai identitas
sendiri.[23]
7. Hubungan
ilmu ahlak dengan ilmu hukum
Pokok pembicaraan mengenai hubungan akhlak dengan
ilmu hukum adalah perbuatan manusia. Tujuannya mengatur perbuatan manusia untuk
kebahagiaanya. Akhlak memerintahkan untuk berbuat apa yang berguna dan melarang
berbuat segala apa yang mudlarat, sedang ilmu hukum tidak, karena banyak
perbuatan yang baik dan berguna tudak diperintahkan oleh hukum, seperti berbuat
baik kepada fakir miskin dan perlakuan baik antara suami istri. Demikian juga
beberapa perbuatan yang mendatangkan kemadlaratan tidak dicegah oleh hukum,
umpamanya dusta dan dengki. Ilmu hukum tidak mencampuri urusan ini karena ilmu
hukum tidak memerintahkan dan tidak melarang kecuali dalam hal menjatuhkan
hukuman kepada orang yang menyalahi perintah dan larangannya.[24]
Terkadang untuk melaksanakan undang-undang itu hajat
mempergunakan cara-cara yang lebih membahayakan kepada ummat, dari apa yang
diperintahkan atau dicegah olh undang-undang. Demikian pula ada
keburukan-keburukan yang samar-samar, seperti mengingkari nikmat dan
berkhianat, dan ini undang-undang tidak sampai untuk menjatuhkan siksaan kepada
pelakunya. Maka itu tidak dapat jatuh dibawah kekerasan undang-undang, dan
keadaanya dalam hal itu bukan seperti pencurian dan pembunuhan. Perbedaan
lainnya adalah bahwa ilmu hukum melihat segala perbuatan dari jurusan buah dan
akibatnya yang lahir, sedang akhlak menyelami gerak jiwa manusia yang atin
(walaupun tidak menimbulkan perbuatan yang lahir) dan juga menelidiki perbuatan
yang lahir.[25]
Ilmu hukum dapat berkata : “jangan mencuri,
membunuh”, tetapi tidak dapat berkata sesuatu tentang kelanjutannya. Sedangkan
ahlak, bersamaan dengan hukum mencegah pencurian dan pembunuhan. Akhlak dapat
mendorong manusia untuk “jangan berfikir dalam keburukan”,”jangan mengkhayalkan
yang tidak berguna”. Ilmu hukum dpat menjaga hak milik manusia dan mencegah
orang untuk melanggarnya, tetapi tidak dapat memerintahkan kepada sipemilik agar
mempergunakan miliknya untuk kebaikan. Adapun yang memerintahkan untuk berbuat
kebaikan adalah akhlak.[26]
III.
SIMPULAN
Dari
uraian diatas kami dapat mengambil suatu kesimpulan bahwa ilmu akhlak adalah
suatu ilmu yang sangat penting dimiliki manusia karena dengan ilmu akhlak jiwa
kita lebih tenang damai, dan menjadi manusia yang lebih baik. Hubungan ilmu
ahlak dengan ilmu tasawuf, tauhid, psikologi, sosiologi, pendidikan, filsafat
dan hukum adalah untuk mengetahui apakah keadaaan rohani dan jasmani baik
individu ataupun masyarakat tertentu baik atau buruk.
IV.
PENUTUP
Demikianlah makalah tentang hubungan Ilmu Akhlak
dengan Ilmu lainnya yang telah penulis paparkan. Kami menyadari makalah ini jauh
dari sempurna maka dari itu kritik yang membangun dari pembaca sangat kami harapkan
untuk perbaikan. Harapan pemakalah, semoga makalah ini dapat memberi
pengetahuan baru dan bermanfaat bagi kita semua
[1] Zahrudin Ar, Hasanuddin Sinaga. Pengantar
Studi Ahlak. (Jakarta : Raja Grafindo Persada, 2004) Hal. 4
[2] Ahmad amin. Etika (ilmu ahlak).
(Jakarta : Bulan Bintang, 1988) Hal. 15
[3] Asmaran AS. Pengantar Studi
Akhlak. ( Jakarta : Rajawali Press, 1992). Hal. 7
[4] Ahmad Bangun Nasution, Rayani
Hanum Siregar. Ahlak Tasawuf pengenalan, pemahaman dan pengaplikasiannya.
(Jakarta : Raja Grafindo Persada, 2013) Hal. 30-34
[5] Ahmad Bangun Nasution, Rayani
Hanum Siregar. Ibid. Hal. 24
[6] Hamzah Ya’qub. Etika Islam
Pembinaan Ahlaqulkarimah. (Bandung : Diponegoro, 1985). Hal. 18
[7] Hamzah Ya’qub. Op. cit. Hal. 18
[8]Hamzah Ya’qub. Op. cit.. Hal. 18
[9]Hamzah Ya’qub. Op. cit Hal. 18
[10] Zahrudin Ar, Hasanuddin Sinaga. Ibid.
Hal. 56
[11] Ahmad amin. Ibid. Hal. 20
[12]Ahmad Musthofa. Ahlak Tasawuf.
(Bandung : Pustaka Setia, 1997) Hal. 22
Rahmat Djatmika. Sistem Ethika Islam
(Akhlak Mulia). (Jakarta : Pustaka Panjimas, 1996) Hal. 51-59
[13] Zahrudin Ar, Hasanuddin Sinaga. Ibid.
2004) Hal. 57
[14] Ahmad amin. Ibid. Hal. 20
[15] Solardja Ponco Soetirto. Azas-Azas
Sosiologi. (Gajah Mada). Hal. 5
[16] Ahmad amin. Ibid. Hal. 20-21
[17] Zahrudin Ar, Hasanuddin Sinaga. Ibid.
Hal. 57-58
[18] Zahrudin Ar, Hasanuddin Sinaga. Ibid.
Hal. 58
[19] Ahmad amin. Ibid. Hal. 20
[20] Zahrudin Ar, Hasanuddin Sinaga. Ibid.
Hal. 59-60
[21] Zahrudin Ar, Hasanuddin Sinaga. Ibid.
Hal.60
[22] Ahmad Musthofa. Ibid. Hal.
109-110
[23] Zahrudin Ar, Hasanuddin Sinaga. Ibid.
Hal. 60-61
[24] Zahrudin Ar, Hasanuddin Sinaga. Ibid.
Hal. 61-62
[25] Ahmad amin. Ibid. Hal. 21-22
[26] Zahrudin Ar, Hasanuddin Sinaga. Ibid.
Hal. 62.
DAFTAR
PUSTAKA
Ar,
Zahrudin, Hasanuddin Sinaga, 2004, Pengantar Studi Ahlak. Jakarta : Raja
Grafindo Persada.
Amin,
Ahmad, 1988, Etika (ilmu ahlak), Jakarta : Bulan Bintang
Nasution,
Ahmad Bangun, Rayani Hanum Siregar, 2013, Ahlak Tasawuf pengenalan,
pemahaman dan pengaplikasiannya, Jakarta : Raja Grafindo Persada.
Ya’qub,
Hamzah, 1985, Etika Islam Pembinaan Ahlaqulkarimah. Bandung :
Diponegoro, 1985
Mustofa,
Ahmad, 1997, Ahlak Tasawuf, Bandung : Pustaka Setia.
Soetirto,
Solardja Ponco, Azas-Azas Sosiologi, Gajah Mada.
Djatmika,
Rahmat, 1996, Sistem Ethika Islam
(Akhlak Mulia, Jakarta : Pustaka Panjimas.
As,
Asmaran, 1992, Pengantar Studi Akhlak. Jakarta : Rajawali Press.
alhamdulillah,, semoga bermanfaat :)
BalasHapus